Tersedak dan Ketidakmampuan Kita Memberikan Penanganan Medis Dasar

Disclaimer: Saya bukan dokter, perawat, atau pekerja kesehatan profesional. Saya hanya orang awam yang punya kesempatan mendapatkan berbagai pelatihan medis dasar.

p3k-tercekik-atau-tersedak

Selama sebulan terakhir saya tertarik dengan publikasi lomba makan ayam berhadiah 5 milyar.

“Wow, menang makan ayam aja bisa dapet 5 miliar.” Itu yang ada dalam pikiran saya saat itu. Dan mungkin itu juga yang ada di benak orang lain.

Dan kemarin saya kaget banget. Ternyata lomba yang saya kira sangat sederhana ini memakan korban jiwa. Keracunan? Bukan. Itu mah kasus sebelumnya. Kopi pula, bukan ayam. Penyebabnya: TERSEDAK.

Nggak. Saya nggak akan bahas kronologis kejadiannya. Itu udah banyak dan ranahnya wartawan. Saya juga ga akan bahas modus operandi jika sekiranya ini jadi kasus pembunuhan atau apakah ada konspirasi di balik kasus yang sudah dinyatakan sebagai kecelakaan ini.

Terlepas dari takdir, tersedak adalah kondisi darurat medis yang dapat terjadi sehari-hari dan mungkin dapat lebih sering terjadi daripada darurat medis lainnya. 4-5 menit tidak tertangani dapat mengakibatkan kematian. Dan inilah yang terjadi kemarin. Yang saya soroti sebagai orang awam adalah dari sekian banyak yang hadir di lokasi, tidak ada yang dapat memberikan penanganan medis dasar atau tindakan awal. Absennya tim medis pun tentu menjadi masalah. Tapi kita kesampingkan dulu hal tersebut.

Sebagai anggota masyarakat, kita seringkali melempar tanggung jawab berbagai masalah kesehatan dan medis pada dokter atau perawat. Padahal, kondisi darurat medis atau kecelakaan dapat terjadi kapan pun dan kita tidak selalu bersama mereka. Lalu, jadi tanggung jawab siapa? Nah, di sinilah letak pentingnya kita sebagai orang awam untuk memiliki kemampuan penanganan medis dasar.

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) sebenarnya sudah kita kenal sejak SD melalui dokter kecil. Lalu diperdalam melalui Pramuka dan PMR. Sayangnya, kedua ekskul itu saat ini kalah pamor sama ekskul-ekskul baru yang katanya kekinian. Wew ah. Jadinya ya anak-anak sekarang makin ga ngerti deh sama P3K.

Bukan sekali-dua kali saya menemui kondisi darurat medis, baik terluka, kecelakaan lalu lintas, atau kasus lainnya. Dan dua kondisi ini yang biasanya terjadi:

  • Masyarakat berkerumun, melihat, dan bingung apa yang harus dilakukan. Ini terjadi akibat tingkat kekepoan masyarakat Indonesia yang tinggi. Oia, tambah satu lagi: foto. Ok. Boleh lah kalau fotonya nanti bisa dijadikan alat bukti atau untuk membantu penyidikan. Tapi kalau cuma untuk pamer atau selfie? Teganya. Kondisi ini akan berlangsung beberapa menit sampai kemudian ada yang sadar untuk menghubungi pihak yang berwenang: polisi atau medis. Padahal, dalam darurat medis, waktu adalah kehidupan. Terlambat berarti kematian.
  • Ramai-ramai menolong, bahkan rebutan. Ini kalau korbannya cantik kali ya. Hehe. Masyarakat Indonesia ini memang suka menolong, ini terbukti ko. Tapi, hati-hati. Kesalahan dalam proses tolong-menolong ini dapat berakibat fatal. Dalam beberapa kondisi, korban makin parah atau bahkan meninggal akibat metode penanganan yang salah.

Jadi, penting banget kan memiliki kemampuan penanganan medis dasar ini. Dan ga cuma itu, masih ada beberapa kemampuan dasar yang seharusnya dimiliki kita sebagai individu. Tidak perlu sampai jago, tapi paham.

Terakhir, berikut beberapa saran dalam menghadapi kondisi darurat secara umum:

  1. Paham“Lo harus ngerti apa yang mau lo lakuin!” Jangan sampai apa yang kita lakukan justru memperparah kondisi korban. Makanya: belajar dan berlatih. Di dunia serba digital seperti sekarang, kita bisa belajar P3K, Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), atau Medical First Response (MFR) melalui internet. Bahkan, sekarang PMI sudah mengeluarkan aplikasinya. Cari aja di Google Play atau Apple Store. Cukup? Nggak. Itu cuma untuk tahu aja, bukan paham. Kita tetep perlu latihan, sama yang ahli lho. Bisa dokter, paramedis, atau relawan ahli. Biasanya PMI atau komunitas relawan ngadain pelatihan seperti ini. Saya sendiri belajar di Pramuka dan Korps Relawan Salman ITB (KORSA). Lalu mendapatkan sertifikasi PPGD dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Tropical Basic Offshore Safety Induction and Emergency Training dari Samson Tiara, provider pelatihan untuk para pekerja offshore.
  2. Berani menolongNah ini, nyali untuk nolong. Percuma kita paham apa yang harus kita lakukan kalau kita ga berani untuk nolong. Ada gitu yang ga berani untuk nolong? Banyak. Alasannya macam-macam: takut darah, takut resiko, bahkan takut jadi saksi. Makanya, pelatihan yang berulang bukan hanya untuk membuat kita bisa nolong, tapi juga untuk berani nolong dengan memahami resikonya.
  3. Serahkan pada ahlinyaSebagai orang awam, tugas kita hanya sebatas memberikan penanganan medis dasar sampai kondisi aman, tidak lebih. Jika tanggung jawab itu sudah dipenuhi, maka serahkan pada ahlinya. Nah, berarti sebelumnya jangan lupa juga untuk menghubungi pihak berwenang. Selalu simpan nomor call center mereka ya.

Itu dulu ya. Next time saya akan bahas lebih dalam tentang PPGD, P3K, atau MFR. Itu juga kalau sempet nulisnya ya. Hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s